Belajar dari Socrates: Seni Bertanya dan Logika Sehat
Patris Allegro
Pendahuluan
Pernahkah Anda merasa lelah saat berdebat dengan seseorang yang seolah-olah kebal terhadap fakta? Anda menyajikan data, ia menolak dengan perasaan. Anda mengutip buku, ia menjawab, “Ya pokoknya begitu.” Akhirnya Anda menyerah, bukan karena kalah argumen, tetapi karena rasanya seperti berbicara kepada tembok.
Masalahnya sering bukan pada kecerdasan, melainkan pada cara berpikir—dan kadang juga pada cara kita menanggapi. Inilah mengapa metode Socratic Thinking tetap relevan sejak ribuan tahun lalu.
I. Mengapa Socrates Masih Dibicarakan?
Socrates tidak pernah menulis satu buku pun. Namun, metode berpikirnya masih menjadi rujukan di ruang sidang, sekolah hukum, bahkan pelatihan militer. Alasannya sederhana:
Ia tidak sibuk membuktikan dirinya benar.
Ia membuat orang sadar sendiri bahwa pikirannya punya lubang.
Metode ini mengubah debat menjadi dialog. Daripada saling mengalahkan, Socrates mendorong orang untuk memeriksa pikirannya sendiri.
II. Apa Itu Socratic Thinking?
Socratic Thinking adalah seni menggiring orang berpikir melalui pertanyaan, bukan instruksi. Alih-alih berkata:
“Kamu salah besar!”
Socrates akan bertanya:
“Apakah kamu yakin itu berlaku dalam semua kasus?”
“Apa alasan di balik pendapatmu?”
Pertanyaan semacam ini memaksa lawan bicara melihat kelemahan dalam argumennya sendiri, tanpa kita harus memaksakan pendapat.
Kekuatan Metode Ini
Membalik dominasi: Anda tidak menyerang, hanya bertanya.
Menciptakan kesadaran: Mereka merasa menemukan jawaban sendiri.
Menghindari konflik emosional: Pertanyaan lebih menenangkan daripada tuduhan.
III. Debat Sehari-Hari: Mengapa Kita Gagal?
Mengutip buku The Tools of Argument (Joel P. Trachtman), debat bukan soal siapa paling keras bicara, tetapi soal menata alur logis. Kebanyakan kita gagal bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita ikut terjebak dalam emosi lawan bicara.
Contoh situasi umum:
Anda: “Menurut data, konsumsi gula berlebih berbahaya.”
Teman: “Ah, nenek saya makan gula tiap hari sampai umur 90!”
Anda (kesal): “Ya itu kan nenekmu, bukan semua orang!”
Akhirnya perdebatan menjadi perang contoh pribadi. Tidak ada yang menang, hanya suara yang meninggi.
IV. Socratic Thinking dalam Aksi
Mari kita lihat bagaimana metode ini bekerja dalam percakapan sehari-hari.
Contoh 1: Soal Kerja Keras
Teman: “Kerja keras itu percuma. Orang kaya semua karena warisan.”
Jawaban biasa: “Tidak juga. Banyak kok yang sukses dari nol.”
Jawaban ala Socrates:
“Jadi menurutmu semua orang kaya pasti karena warisan? Tidak ada yang berhasil membangun usaha sendiri?”
Perbedaan jelas:
Jawaban biasa memicu defensif.
Jawaban ala Socrates memicu berpikir ulang.
Contoh 2: Soal Pendidikan
Teman: “Kuliah itu buang-buang waktu. Banyak sarjana nganggur.”
Jawaban biasa: “Tidak semua begitu. Banyak sarjana sukses.”
Jawaban ala Socrates:
“Kalau begitu, menurutmu semua orang yang kuliah pasti menganggur? Bisa sebut contoh orang yang kuliah dan berhasil?”
Dengan cara ini, Anda mengajak dia mengoreksi generalisasi berlebihan.
Contoh 3: Soal Kesehatan
Teman: “Vaksin itu bahaya, banyak yang sakit setelah disuntik.”
Jawaban biasa: “Itu hoaks. Vaksin justru melindungi.”
Jawaban ala Socrates:
“Kalau vaksin selalu berbahaya, mengapa sebagian besar orang yang divaksin tetap sehat? Apakah satu-dua kasus cukup untuk menyimpulkan bahaya untuk semua?”
Pertanyaan ini membuka ruang berpikir, bukan ruang bertengkar.
V. Prinsip Dasar Metode Socratic
Tahan diri untuk tidak menghakimi cepat-cepat.
Ajukan pertanyaan terbuka, bukan pernyataan keras.
Jaga arah percakapan, jangan biarkan melenceng.
Tujuan Anda bukan menang, tapi membuat lawan berpikir.
Penutup: Mengapa Kita Butuh Ini?
Di era banjir informasi, semua orang merasa punya kebenaran sendiri. Jika kita ikut-ikutan keras kepala, debat hanya jadi arena ego. Socratic Thinking mengajarkan bahwa logika bukan alat untuk mengalahkan, tetapi untuk menyadarkan.
Pernah debat dengan orang yang tidak bisa diajak pakai logika? Jangan buang energi. Gunakan metode ini: bertanya, bukan menghantam.
Ingatlah: kebodohan sering bersembunyi di balik keyakinan mutlak, tapi logika yang sabar bisa merobohkan tembok itu—pelan-pelan, tanpa teriak.

