Semakin ke sini, kita makin sering mendengar nasihat getir,“Kalau kamu pintar, jangan balik ke Indonesia. Di luar negeri kamu lebih dihargai.” Kalimat itu bukan cuma keluhan, tapi cermin dari betapa seringnya kecerdasan dan kerja keras tak mendapat tempat di tanah sendiri. Kisah seperti ini tak hanya terjadi di era sekarang,Nikola Tesla pun mengalaminya lebih dari seabad lalu. Seorang ilmuwan jenius yang menciptakan fondasi listrik modern, namun justru diasingkan, dimanfaatkan, dan wafat dalam kesepian.
Nikola Tesla adalah salah satu ilmuwan paling visioner yang pernah dimiliki dunia. Lahir pada 10 Juli 1856 di Smiljan, wilayah yang kini masuk Kroasia. Tesla sudah menunjukkan kecemerlangan sejak muda. Namun hidupnya bukan hanya soal kejeniusannya dalam menemukan teknologi, tapi juga kisah tentang kesepian, pengkhianatan, dan pengorbanan yang tak selalu dihargai pada zamannya. Ia dikenal luas sebagai pencipta sistem arus bolak-balik (AC) yang kita pakai hingga hari ini, serta sebagai sosok di balik banyak penemuan yang kini menjadi tulang punggung teknologi modern, dari motor induksi hingga transformator Tesla. Meski begitu, Tesla menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam bayang-bayang, dilupakan oleh masyarakat, bahkan sering kali dipinggirkan dari buku sejarah resmi.
Pada masa produktifnya, Tesla sempat bekerja bersama Thomas Edison, namun keduanya berselisih paham, terutama soal arus listrik, Edison dengan arus searah (DC), sementara Tesla membela sistem AC yang lebih efisien untuk distribusi energi jarak jauh. Perseteruan itu menjadi terkenal dalam sejarah sains sebagai Perang Arus. Setelah itu, Tesla menggandeng George Westinghouse, pengusaha yang membantunya membawa sistem AC ke panggung dunia, termasuk dalam proyek besar pembangkit listrik di Air Terjun Niagara. Namun konflik hak paten, persaingan bisnis, dan krisis ekonomi membuat Tesla terpinggirkan. Ia mulai kesulitan secara finansial, meskipun kontribusinya terhadap sains sangat besar.
Tesla bukan ilmuwan biasa. Ia membayangkan dunia dengan listrik nirkabel bahkan sebelum radio ditemukan. Pada tahun 1901, ia memulai proyek ambisius, membangun Menara Wardenclyffe di New York, yang ia yakini bisa mengirimkan energi dan informasi ke seluruh dunia tanpa kabel, sebuah cikal bakal dari Wi-Fi. Namun karena proyek itu tidak menjanjikan keuntungan bisnis yang cepat, para investor mundur. Termasuk J.P. Morgan yang sebelumnya mendukung proyek tersebut. Wardenclyffe Tower terbengkalai, dan Tesla perlahan menghilang dari sorotan publik. Ia pun memilih hidup menyendiri, menolak undangan dunia bisnis, dan menghabiskan hari-harinya dengan meneliti, memberi makan burung merpati, dan mencatat ide-ide yang tak henti muncul di kepalanya.
Pada akhir hayatnya, Tesla tinggal di kamar 3327 di Hotel New Yorker, hidup dalam kesederhanaan dan hanya ditemani oleh burung-burung yang ia beri nama. Ia meninggal pada 7 Januari 1943, dalam usia 86 tahun, ditemukan oleh petugas hotel di kamar yang tenang dan sepi. Ia tak memiliki banyak harta, hanya segelintir pakaian dan dokumen penelitian. Saat itu, dunia belum benar-benar memahami betapa besarnya pengaruh Tesla terhadap teknologi masa depan. Jenazahnya dikremasi, dan abu Tesla kini disimpan di Museum Nikola Tesla di Beograd, Serbia.
Beberapa tahun terakhir, media sosial ramai membagikan kutipan yang konon menjadi kata-kata terakhir Tesla, “Aku ingin berada di sisimu, Ibu, untuk membawakan segelas air kepadamu. Semua tahun yang aku habiskan untuk berbakti kepada umat manusia hanya membawa celaan dan penghinaan.” Kalimat ini menyayat hati, menyiratkan kerinduan dan keletihan seorang jenius yang merasa tidak dihargai oleh dunia yang ia layani. Namun menurut klarifikasi dari Snopes, tidak ada bukti historis yang mendukung keaslian kutipan tersebut. Museum Tesla di Beograd juga tidak pernah mencatat atau mengarsipkan pernyataan tersebut sebagai kata terakhirnya. Bahkan sebagian besar literatur tentang Tesla tidak pernah menyebutkan kutipan tersebut sebelum tahun 2015, menunjukkan bahwa kemungkinan besar itu hanya mitos modern yang viral di internet.
Meski kutipan itu tidak terbukti otentik, semangat di baliknya tetap mencerminkan kenyataan pahit dalam hidup Tesla, bahwa orang jenius kerap kali tidak dihargai pada waktunya. Tesla bukan seorang kapitalis. Ia menolak paten untuk beberapa temuannya karena ingin semua orang bisa mengakses teknologi. Ia juga tak pernah mementingkan uang. Fakta yang membuatnya sering dimanfaatkan oleh para pebisnis cerdik. Ia bukan tidak tahu cara bermain di sistem, ia hanya menolak bermain di dalamnya. Inilah mengapa banyak yang menyebut Tesla sebagai ilawan yang lahir terlalu awal, terlalu murni untuk dunia industri yang keras.
Ironisnya, puluhan tahun setelah kematiannya, dunia mulai sadar. Nama Tesla kini diabadikan dalam berbagai bentuk, dari satuan medan magnet “tesla”, patung di universitas-universitas teknik, hingga perusahaan mobil listrik milik Elon Musk yang menggunakan namanya, Tesla Inc. Kini jutaan orang di dunia mengenal siapa Nikola Tesla, bukan hanya sebagai penemu, tapi sebagai simbol ketekunan, keberanian, dan pengabdian kepada ilmu pengetahuan tanpa pamrih.
Kisah hidup Tesla mungkin berakhir dalam kesunyian, tapi warisannya hidup dalam setiap aliran listrik yang mengalir di rumah kita. Setiap kali kamu menyalakan lampu, menyalakan AC, atau bahkan mengisi daya smartphone secara nirkabel, di situlah nama Tesla hadir, meski tidak disebut. Ia mungkin tidak meninggalkan banyak kekayaan, tapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga, warisan bagi seluruh umat manusia.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

