Darwin Melihat Kekejaman Perbudakan Yang Biadab

Darwin Melihat Kekejaman Perbudakan Yang Biadab

Politik, Sejarah76 Dilihat

Ketika kita memikirkan Charles Darwin, kita sering teringat karya inovatifnya tentang evolusi, namun hanya sedikit yang menyadari kengerian mendalam yang disaksikannya yang menggetarkan jiwanya jauh melampaui sains. Pada tahun 1832, dalam pelayarannya di atas HMS Beagle, Darwin tiba di Rio de Janeiro, Brasil, dan dihadapkan pada kenyataan brutal yang mengguncangnya hingga ke lubuk hatinya: kekejaman perbudakan yang biadab. Apa yang disaksikannya bukanlah sebuah eksperimen, melainkan sebuah kekejaman. Seorang anak laki-laki berusia enam atau tujuh tahun dicambuk tanpa ampun di kepala hanya karena ia telah menyajikan segelas air yang agak keruh kepada Darwin. Pemandangan mengerikan ini menyingkap perbudakan dalam bentuknya yang paling kasar dan paling tidak manusiawi.

Pengamatan Darwin bahkan lebih jauh lagi. Di seberang jalan, ia melihat seorang perempuan tua yang menyimpan stoples kaca dengan tujuan mengerikan untuk meremukkan jari-jari orang-orang yang diperbudak yang tidak mematuhinya. Di rumah tangga lain, seorang pembantu muda blasteran menanggung penyiksaan setiap hari — dihina, dipukuli, dan dianiaya dengan amarah yang digambarkan Darwin cukup untuk “mematahkan semangat bahkan hewan yang paling hina sekalipun.” Yang paling mengerikan adalah bahwa tindakan kekejaman ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Kristen, mengajarkan kasih dan pengampunan bahkan ketika mereka menyiksa anak-anak tak berdosa untuk “pelanggaran” kecil seperti menumpahkan air.

Hati Darwin hancur bukan hanya untuk para korban, tetapi juga untuk kemunafikan masyarakat yang disebut “beradab”. Ia tidak menyayangkan orang Inggris atau keturunan mereka di Amerika, mengutuk mereka karena membangun kerajaan mereka di atas punggung orang-orang yang diperbudak dan menyebutnya sebagai “kejahatan besar.” Refleksinya yang kuat, yang tercatat dalam *The Voyage of the Beagle*, mengungkapkan seorang pria yang murka oleh ketidakadilan, namun sangat manusiawi dalam empatinya.

Kesaksian yang menghantui ini masih penting hingga saat ini. Hal ini mengingatkan kita bahwa diam dalam menghadapi kekejaman merupakan bentuk keterlibatan, bahwa menghadapi sejarah yang menyakitkan diperlukan untuk penyembuhan, dan bagi Darwin, bukan hanya ilmu pengetahuan saja, melainkan rasa keadilan yang mendalamlah yang benar-benar menggerakkan jiwanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *