oleh

Sejarah Tarian Tor-Tor dari Sumatera Utara


Berbagai tarian tradisional Nusantara sampai saat ini masih menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Tari Tor-Tor dari Batak, Sumatera Utara. Tarian ini biasa ditampilan saat perayaan acara adat, pernikahan, hingga kematian.

Desa Huta Tinggi merupakan salah satu daerah yang dihuni oleh Suku Batak yang menjunjung tinggi keagungan Tari Tor-Tor.

Bina Kasih

Sejarah Tari Tor-Tor

Nama tor-tor sendiri diambil dari suara hentakan para penari saat tampil di papan rumah suku Batak. Dulunya, tarian ini digunakan sebagai bentuk hiburan bagi para raja yang bersembunyi dari tentara Belanda.

Jenis Tari Tor-Tor

Terdapat berbagai variasi tari Tor-Tor yang biasa ditampilkan sesuai dengan tujuan itu sendiri. Contohnya, Tari TorTor Pangurasan untuk acara pembersihan atau pesa besar, Tor-Tor Sipitu Cawan untuk pengukuhan raja, sedangkan tor-tor panaluan dilakukan saat desa sedang mendapat musibah.

Selain itu, ada pula Tari Tor-Tor yang biasa ditampilkan saat upacaa kemarian suku Batak. Sementara itu, Tari Tor-Tor untuk uoacara pernikahan adalah horja haroan batu. Upacara adat ini merupakan saat di mana pengantin datang ke kediaman pihak laki-laki. Dalam pernikahan adat, tari Tor-Tor tidak boleh dilakukan berpaangan antar laki-laki dan perempuan.

Alat Musik Tari Tor Tor

1. Margondang Pesta

Alat musik ini digunakan saat tari Tor-Tor ditunjukkan untuk kegembiraan. Alat musik ini terdiri dari tiga jenis yaitu gondang naposi,gondang pembangunan gereja, dan gondang mangompoi jabu.

2 . Magandang Adat

Alat musik ini digunakan untuk merayakan kegiatan untuk menyatukan kekerabatan. Gondang yang dipakai yaitu gondang pangolin anak (perkawinan), gondang mamape marga (pemberi marga), dan gondang saur matua (kematian).

3. Magandang Religi

Sesuai dengan namanya, alat musik satu ini digunakan untuk acara keagamaan Batak Purba. Sementara itu, alat musik untuk upacara kematian adalah hasappi, gondang, taganing, dan ogung.

4. Busana Tari Tor-Tor

Sebelum tampil, penari Tor-Tor wanita akan mempercantik penampilan dengan riasan, sementara penari pria tidak menggunakannya. Pakaian penari laki-laki adalah jas, celana, dan ulos yang semuanya berwarna hitam. Sementara itu, untuk penari wanita memakai kebaya, hitam, rok, dan ulos dengan warna senada. Pilihan warna ini merupakan simbol duka cita masyarakat Batak Toba.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.