oleh

Efek samping Greenwashing dibalik Status Biodegradable dan Ecofriendly


Produksi plastik secara global untuk tahun 2018 saja mencapai 359 juta ton dan terus bertambah bahkan diprediksi ditahun 2050 sampah plastik limbah konsumen setelah dipakai mencapai 26 miliar ton (Guglielmi, 2017) dimana setengahnya sudah pasti terbuang ke lingkungan sehingga pertanyaannya bagaimana pengelolaan limbah tersebut?

Limbah plastik yang dibuang ke lingkungan atau dibakar bukan merupakan jalan keluar untuk mengurangi dampak buruknya. Pembuangan dan pembakaran plastik memiliki potensi melepaskan bahan kimia berbahaya dari plastik tersebut dan akhirnya merusak lingkungan.

Bina Kasih

Plastik sulit terdegradasi karena polimer inert yang susah untuk larut dan membutuhkan ratusan tahun agar dapat terurai akibatnya di lingkungan terjadi akumulasi plastik.

Beberapa penelitian sudah menunjukkan bahwa ada sekitar 12.000 partikel plastik ditemukan di laut. Lebih serem lagi tidak hanya lautan yang dipenuhi partikel plastik tapi juga di tanah, air, dan udara yang kita hirup mengandung partikel plastik.

Dengan bukti tersebut, orang mulai sadar tentang bahaya plastik untuk kesehatan sehingga tren yang muncul adalah produsen berlomba-lomba menemukan bahan pengganti plastik berbahan polymer inert dan mengklaim plastik yang digunakan itu berasal dari bahan yang biodegradable yang artinya jika terbuang akan didegradasi oleh mikroorganisme yang ada.

Tapi betulkah demikian? Siapkah kita jika ternyata status biodegradable itu hanya klaim sepihak karena tuntutan konsumen? lantas bagaimana solusi pemanfaatan limbah plastik untuk menekan penggunaan dan limbah yang dihasilkan dari plastik?

Fakta Tentang Biodegradable Plastic

Plastik yang berbahan biodegradable berasal dari biomassa atau dari bahan-bahan yang secara alami dapat terdegradasi tanpa merusak lingkungan sehingga ketika menjadi limbah mikroorganisme yang ada di tanah mampu merombaknya.

Tetapi jangan lupa, bahwa di alam, proses degradasi tidak semudah yang dibayangkan. Banyak faktor yang berperan dalam proses tersebut misalnya Moroshi et al (2018) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa status biodegradasi tergantung pada komplektitas struktur kimia bahan plastik tersebut.

Betul bahwa plastik biodegradable dapat terdegradasi tetapi prosesnya memerlukan kondisi tertentu. Artinya limbah plastik biodegrdasipun harus dilakukan pada kondisi yang terkontrol.

Sehubungan dengan kebutuhan plastik yang semakin bertambah setiap tahun, maka produksi dan pemakaian plastik biodegradable dalam jumlah besar jika diperlukan, membutuhkan skema pemrosesan yang besar sedangkan tempat “pengomposan” bahan plastik tersebut kurang bahkan tidak ada akibatnya limbah plastik tetap saja menumpuk di lingkungan.

Selain membutuhkan lingkungan yang terkontrol, perlu diketahui bahwa status biodegradasi tidak menjamin di lingkungan akan terdegradasi. Sebab plastik yang berbahan biodegradable ini berasal dari kombinasi atau modifikasi bahan polimer konvensional ditambah bahan tanaman seperi serat jagung, pinus, bambu, padi dan serat alami lainnya.

Sekalipun terbuat dari modifikasi dengan bahan alami, ketika terbuang di alam nasibnya sama dengan plastik berbahan polimer minyak bumi yang tidak terdegradasi dengan sempurna.

Selain itu Degradasinyapun berjalan lambat karena memerlukan kondisi yang terkontrol dalam proses dekomposisi bahan alaminya sehingga efeknya sama dengan plastik yang bukan hasil penambahan bahan serat alami tersebut.

Status biodegradable dari plastik bungkus makanan, tas belanjaan, atau mungkin bahan kosmetik dan pakaian mungkin merupakan slogan semata. Biodegradable plastics bisa jadi digunakan seolah-olah menunjukkan keberpihakan terhadap lingkungan atas nama perlindungan lingkungan semata (greenwashing)

Secara umum proses biodegradasi terjadi dalam dua tahapan yaitu biofisik dimana memecah polimer yang ada menjadi sederhana melalui reaksi oksidasi, hidrolisis dan fotodegradasi selanjutnya tahapan biokimia dengan asimilasi biologi dan mineralisasi dengan enzim-enzim yang dimiliki miroorganisme polimer itu diurasi menjadi molekul-molekul kecil dan menjadi karbon dioksida dan air.

Proses tersebut pada limbah plastik sangat tergantung pada sifat bahannya dan kondisi lingkungan dengan demikian tanpa memastikan partikel hasil degradasi tersebut dapat diserap dan didekomposisi oleh mikroorganisme maka plastik biodegradable tersebut dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang sama buruknya dengan plastik non-degradable serta menimbulkan kekhawatiran lebih tentang bahayanya bagi kelangsungan hidup organisme.

Oleh karena itu penggunaan biodegradable plastic demi mendukung kelestarian lingkungan atau sebagai slogan untuk perlindungan semata memerlukan perhatian serius dari kita.

Apakah Biodegradable Plastic Berpotensi Membahayakan Lingkungan?

Plastik memang berbahaya bagi lingkungan jika bentuknya mulai berubah dari plastik utuh menjadi mikro atau nanoplastik. Jika demikian maka efeknya sangat buruk bagi lingkungan.

Mengapa? mikroplastik dan nanoplastik ukurannya sangat kecil dan bagi mikrorganisme mikroplastik bukan menjadi pilihan sebagai sumber karbon.

Maksudanya begini, mikrorganisme adalah makhluk hidup yang untuk tumbuh dan berkembang membutuhkan sumber energi. Plastik bisa saja menjadi sumber karbon, hanya mikroplastik sulit untuk diasimilasi oleh mirkoorganisme. Akibatnya plastik biodegradable ini tetap dalam kondisi semula atau sebagain terdegradasi secara terbatas di alam.

Selain itu ditemukan bahwa mikroplastik biodegradable dapat berfungsi sebagai pembawa polutan dibanding mikroplastik konvensional (Frere et al., 2018).

Greenwsahing merupakan aktivitas yang pada dasarnya dilakukan oleh organisasi atau perusahaan untuk memasarkan produk mereka sebagai produk yang berkelanjutan, ramah lingkungan daripada meminimalkan dampak kerusakan lingkungan dari produksi yang mereka lakukan.

Dengan kata lain, mereka menghabiskan banyak daya dan tenaga untuk memasarkan diri mereka sebagai perusahaan atau organisasi yang mendukung lingkungan yang lestari akan tetapi apa yang mereka hasilkan malah sebaliknya.

Sehingga boleh dikatakan metode “periklanan” seperti ini hanya untuk menipu konsumen semata sehingga produk yang dihasilkan laku di pasaran. Mengklaim produknya ramah lingkungan mungkin saja benar, tetapi proses produksinya, bahan biodegradable yang digunakan belum tentu ramah lingkungan jika terekspos di alam.

Strategi greenwashing ini memang berdampak pada keputusan untuk membeli produk yang ramah lingkungan dan dari segi ekonomi transaksi keuangan berjalan dengan baik hanya saja merugikan pada kebijakan publik untuk mengontrol polusi dari plastik.

Untuk itulah diperlukan strategi untuk mengatasi masalah efek dari plastik biodegradable.

Solusi Pemanfaatan Plastik Untuk Mendukung Kelestarian Lingkungan

Pertama larangan penggunaan plastik apapun bahannya. Orang berpikir dengan melarang penggunaan plastik secara langsung menjadi solusi utama tetapi plastik sudah seperti kebutuhan pokok bagi masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia.

Tetapi dengan larangan tambahan, atau penggunaan alternatif selain plastik harapannya lebih efektif dibandingkan penggunaan plastik sekali pakai atau plastik biodegradable.

Menurut data PBB lebih dari 70 negara telah melarang penggunaan kantong plastik ada juga yang menerapkan pajak untuk penggunaan kantong plastik.

Di Indonesia sendiri yang terlihat sudah menerapkan pelarangan kantong plastik adalah Surabaya, dimana di beberapa supermarket kantong plastik sudah diganti dengan karton sementara toserba modern dikenakan charge tambahan jika konsumen memilih menggunakan kantong plastik.

Seharusnya Indonesia bisa meniru langkah New Zealand dimana bukan saja kantong plastik yang dilarang tetapi semua yang terbuat dari plastik seperti sedotan plastik sekali pakai, peralatan dan bahan-bahan plastik kecil lainnya secara bertahap sampai 2025. Diperkirakan 2 miliar barang plastik akan hilang dari peredaran setiap tahunnya sampai 2025.

Kedua, menerapkan kebijakan EPR (Extended Producer Responsibility) seperti di Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa. Kebijakan ini mengatur biaya dan tanggungjawab bahan kemasan plastik kepada prosuden, bukan konsumen.

Inti kebijakan ini adalah produsen atau perusahaan akan dikenakan biaya untuk mengumpulkan, mendaur ulang kardus, wadah plastik dan bahan kemasan plastik lainnya. Karena untuk mengumpulkan dan mendaur ulang membutuhkan biaya besar maka perusahaan diberi insentif untuk memproduksi lebih sedikit kemasan plastik dan membangun pasar untuk produk daur ulang.

Ketiga, mengadopsi teknologi hijau yaitu memanfaaatkan limbah plastik sebagai alternatif pengaspalan jalan. Umumnya jalan menggunakan aspal, dengan teknologi hijau, jalan raya diaspal seluruhnya atau dicampur dengan limbah plastik.

India negara yang tergolong konsumen plastik terbesar di dunia telah menggunakan teknologi ini untuk mengaspal jalan-jalan di negara tersebut dan sudah dilakukan selama 20 tahun terakhir, sementara di Belanda jalur sepeda sepanjang 30 Km telah dibangun dengan plastik.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa plastik memiliki potensi yang sama bahkan lebih baik dibanding jalan konvensional yang menggunakan aspal sebab plastik  lebih tahan lama dan bertahan terhadap perubahan suhu, lubang, dan faktor kerusakan jalan lainnya.

Pada akhirnya untuk menekan penggunaan plastik apapun bahan pembuatnya, diperlukan kerjasama semua pihak. Masyarakat harus diberi literasi tentang potensi bahaya plastik untuk mendukung kesadaran.

Sementara dari sisi pemerintah diharapkan menegakkan aturan secara tegas sehingga tidak terkesan tebang pilih. Sedangkan untuk produsen, mungkin pemerintah bisa mengadopsi kebijakan EPR sebagai solusi untuk  mengatasi permasalahan dalam produksi mereka agar sama-sama diuntungkan.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.