oleh

Asal mula “Waktu” yang berangka 60 menit per detik, 60 menit per jam dan 24 jam per hari


Waktu merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia dan sangat mungkin bagi mahluk lainnya di alam semesta ini.

Makanya kemudian waktu menjadi bagian paling penting dan berharga dalam kehidupan manusia, sekaligus menjadi sebuah paradoks.

Setiap dari kita memliki waktu 60 detik per menit 60 menit setiap jamnya dan 24 jam dalam sehari. Namun setiap kita tak memiliki durasi waktu hidup yang sama.

Sebagian berusia tua, sebagian lainnya harus sudah kehabisan waktu untuk meninggalkan dunia di usia muda

Memanfaatkan waktu dengan cerdas itu lah yang membuat kita bisa berhasil dan memberi manfaat bagi kehidupan, lantaran waktu adalah merupakan sesuatu yang tak akan pernah bisa dikembalikan lagi.

Waktu yang berlalu, akan menjadi masa yang tak akan pernah kita dapatkan kembali.

Saya tak akan membahas terlalu dalam tentang filosofi waktu dalam kehidupan manusia. Saya akan lebih membahas, untuk menunaikan rasa keingintahuan saya bagaimana  secara teknis satuan waktu itu  harus 60 detik untuk satu menit, 60 menit untuk satu jam, dan 24 jam untuk satu hari.

Untuk itulah kemudian saya mencoba membaca berbagai referensi yang saya dapatkan di berbagai sumber bacaan daring.

Dan ternyata sejarah adanya satuan waktu itu cukup menarik dan hal tersebut sudah ditemukan sejak ribuan tahun lalu.

Semua keberadaan istilah satuan waktu itu lahir dari petunjuk-petunjuk alam  yang telah disediakan oleh Tuhan Yang Maha Tahu.

Menurut sejarah penemuan jam, manusia mulai memahami keberadaan bingkai waktu pada sekitar 5.000 atau 6.000an tahun lalu yang saat itu dibingkai berdasarkan penggunaan pergerakan matahari sebagai basis perhitungan waktunya.

Metode pergerakan matahari ini kemudian menjadi cikal bakal pembuatan jam seperti yang dilakukan oleh masyarakat yang mendiami kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Metode ini kemudian dimplementasikan menjadi sebuah benda yang disebut  jam matahari yang mengukur waktu berdasarkan arah jatuhnya bayangan saat matahari bergerak dari timur ke barat.

Jam matahari yang dirancang dengan baik dapat mengukur waktu dengan ketepatan menengah.

Salah satu bangsa yang pertama kali menggunakan jam matahari ini adalah bangsa Mesir di era kekuasaan Ramses II pada 3.500 Sebelum Masehi(SM).

Mereka membangun batu pancang semacam menara dengan tinggi kurang lebih 25 meter yang disebut dengan obelisk.

Menara yang dibuat dari granit itu, lewat bayangannya bisa digunakan oleh masyarakat Mesir saat itu untuk mengetahui waktu keseharian mereka.

Lalu bagaimana awal mula perhitungan waktu menjadi 1 menit ada 60 detik, 1 jam dibentuk dari 60 menit, dan satu hari menjadi 24 jam?

Menurut sejumlah sumber referensi yang saya dapatkan, bangsa Mesir kuno pada 1.500 SM mengembangkan program jam matahari berbentuk huruf T.

Basis perhitungan dalam program tersebut menggunakan bilangan 12. Jam matahari yang berbentuk T itu diletakan di tanah dan mereka membagi antara waktu matahari terbit hingga terbenam menjadi 12 bagian.
Para ahli sejarah berpendapat orang-orang Mesir kuno menggunakan program berbasis angka 12 itu berdasarkan total siklus bulan dalam setahun.

Atau ada pula pendapat lain yang menyebutkan, angka 12 itu lahir didasari dari banyaknya sendi-sendi yang terdapat pada jari tangan manusia yang berjumlah 3 sendi disetiap jarinya diluar jempol.

Kenapa jempol tak dihitung lantaran hal tersebut memungkinkan mereka menghitung 4 jari lainnya menggunakan ibu jari tersebut.

Dengan membagi satu hari satu malam menjadi masing-masing 12 jam maka secara tidak langsung konsep 24 jam dalam sehari mulai diperkenalkan.

Namun demikian, pada saat itu karena mengikuti panjang malam dan panjang siang yang tak selalu sama panjangnya tergantung musim,misalnya panjang siang akan lebih lama dibanding malam dimusim panas, maka pembagian jam antara siang dan malam menjadi tak ajeg, berubah-rubah tergantung musim, makanya kemudian jam ini disebut sistem waktu musiman.

Dalam perkembangannya kemudian, sekitar tahun 147-127 SM seorang ahli Astronomi Yunani bernama Hipparchus berpendapat bahwa waktu 24 jam dalam satu hari ini dibuat tetap saja dengan menggunakan sistem waktu equinoctial alih-alih sistem waktu musiman seperti itu.

Sistem waktu 24 jam konstan ini tak langsung diterima oleh masyarakat luas, baru pada abad ke 12 M sistem waktu ini digunakan dan disepakati bersama saat jam mekanik pertama kali ditemukan.

Lalu mengenai perhitungan waktu 60 detik dan 60 menit dalam satu jam, hal ini pertama kali ditemukan perhitungannya oleh seorang ahli Astronomi Yunani lain bernama Erasthostenes pada kisaran waktu 276-194 SM.

Ia membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membentuk sistem Geografis Latitude. Teknik yang digunakan ini berdasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh bangsa Babylonia yang berdiam di Mesopotamia, yang mereka ambil dari peradaban  bangsa Sumeria pada 2.000 SM.

Tak ada yang mengetahui secara pasti mengapa mereka menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun menurut sejumlah ahli sejarah dan astronomi besar dugaan angka 60 itu lahir dari perhitungan bahwa angka tersebut merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh bilangan 10,15,20, dan 30.

Kemudian,kembali Hipparchus menyempurnakan sistem tersebut yang lantas melahirkan satuan waktu lebih kecil yang sekarang kita kenal dengan detik.

Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat, yang bersama ilmuwan lainnya bernama Claudius Ptolemy pada 130 SM, mereka membagi setiap derajat menjadi 60 bagian.

Bagian pertama, disebut partes minutae  primae yang kita kenal dengan menit. Dan bagian kedua, Partes minutae secundae yang kita kenal detik.

Nah, semua sistem ini kemudian baru terbentuk secara sempurna menjadi sebuah penunjuk waktu yang memiliki ketepatan tinggi saat jam  mekanik ditemukan pertama kali pada abad ke-12 Masehi yang disebut Escapment.

Escapment adalah mekanisme yang berdetik dengan irama tetap dan menggerakkan roda bergigi kedepan dalam serangkaian lompatan yang sama panjang.

Jam umum pertama yang memperdengarkan dentingan jam dipasang di Milan sekitar tahun 1335 Masehi, jam pada masa itu hanya memiliki satu jarum, jarum yang menunjukkan jam tidak menujukkan waktu yang akurat.

Setelah itu perkembangan jam mekanik baik berupa jam saku yang kemudian bertambah jenisnya menjadi jam tangan agar lebih nyaman dan aman digunakan, terus mengalami perbaikan baik dari sisi keakuratan, teknologi, dan penampilannya.

Penunjuk waktu atau jam, kini menjadi simbol prestise bagi siapapun penggunanya, bukan hanya dilihat di sisi fungsionalnya saja.

Bahkan kegunaannya dijaman teknologi tinggi saat ini lebih beragam, bukan hanya untuk menunjukan waktu tetapi juga bisa digunakan untuk menelpon,mengukur detak jantung dan lain sebagainya.

Tapi tetap saja jam atau penunjuk waktu fungsinya ya untuk menunjukan waktu agar kita tahu kapan kita beraktivitas apa setiap harinya.

Terlepas dari “penunjuk waktunya” yang paling penting gunakanlah waktu yang kita miliki untuk sesuatu yang benar dan baik, ingat waktu yang telah hilang tak akan pernah bisa kembali berapapun kita menebusnya.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.